| 29 July 2010
Setetes Air Penuh Arti
Kebesaran dimulai dari hal kecil. Kemajuan dirintis dari langkah sederhana. Kesempurnaan digapai dengan melakukan hal kecil, bahkan sepele. Kehormatan diukir dengan belajar menghormati diri sendiri. Adanya tulisan berbuku-buku adalah dimulai dari titik. Kita tak bisa mengatakan bahwa yang di depan itu pasti yang paling banyak jasanya. Bisa jadi yang di tengah atau di belakanglah yang justru punya peran penuh arti.
Setitik air jika dibandingkan dengan lautan mungkin tak ada artinya sama sekali. Namun kita juga harus ingat, bahwa lautan itu tak akan pernah ada tanpa titik-titik air yang terkumpul dan menyatu.






Kota Madinah mulai berselimutkan malam. Lorong-lorong itu kini mulai sepi setelah seharian lelah beraktifitas. Suara binatang malam mulai nyaring terdengar seperti hendak menyambut malam yang telah lama mereka nantikan.
Diantara kelebihan yang diberikan Allah Swt kepada kaum wanita adalah ketika Allah Swt menjadikan rahim kaum wanita sebagai tempat untuk menyemai janin, sebelum akhirnya terlahir ke alam dunia. Ini merupakan sebuah keistimewaan sekaligus mukjizat yang luar biasa.
Anak-anak amat membutuhkan perhatian orangtuanya, coba saja perhatikan apabila orangtua sibuk melakukan sesuatu dan seperti mengabaikannya, pasti ada saja ulah yang dilakukan mereka untuk menarik perhatian ibu atau ayahnya.
Lompat pagar. Istilah tersebut memang lebih sering dipakai di dalam pembicaraan tentang partai. Terkadang anggota bahkan pendiri partai A berpindah ke partai B yang kemudian menjadi rival di lapangan. Hal ini juga berlaku di perusahaan, organisasi, lembaga dan berbagai perkumpulan yang menuntut soliditas. Masalahnya adalah jika yang berpindah adalah orang-orang pilihan bahkan pendirinya. Pasti sudah terbayang oleh kita, apa yang akan terjadi. Orang terbaik itu pindah dengan membawa segepok data, info, pengalaman berikut jeroan semua hal yang ada di perkumpulan sebelumnya. Karena kini, dia berjuang maksimal untuk lembaga barunya yang berubah menjadi rival utama bagi lembaga yang lama.
Seorang lelaki datang melapor kepada Wahab bin Munabbih : “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”