YOOtheme
Galat
  • JUser::_load: Unable to load user with id: 5144
Menghafal… Pendidikan yang Tradisional ?
Rabu, 25 April 2012 08:12

Hari ini kita disuguhkan dengan penelitian-penelitian tentang menghafal. Dari yang positif hingga negatif. Lebih mirisnya lagi saat kita membaca buku-buku pendidikan yang dikarang oleh ilmuan-ilmuan barat, mereka seringkali mengeruhkan metode menghafal untuk pembelajaran bagi manusia khususnya anak-anak.

Apakah ini rasa iri mereka dengan metode menghafal ?

Konspirasi kah ? Atau pengalaman kelam tokoh pendidikan ?

Salah satu hal yang membuat “bimbang” para pendidik muslim zaman modern ini untuk menerapkan metode menghafal adalah kata "Pendidikan Tradisional". Menghafal dari beberapa buku pendidikan dimasukan kedalam katagori pendidikan Tradisional atau dengan kata lain pendidikan yang udah kagak zamannya lagi. Salah satunya  dalam buku “The Power of Learning Styles” karya Barbara Prashing seorang pakar Learning and working styles, didalam bukunya beliau mengambil tulisan dari eric Jensen yang menuliskan unsur-unsur pengajaran tradisional antara lain;
disiplin, berurutan, logis, analitis, berdampak emosi rendah, makna berasal dari isi, tekanan kuat pada 3 R, duduk di depan meja, aktivitas terbatas, stress pada tombol auditory (Menghafal)….

Atau dibeberapa literature lagi bisa anda temukan hal tersebut. Dan semua hampir sama selalu ada kata duduk, menghafal, disiplin, dsb. bahkan di sini ditegaskan bahwa menghafal itu menyebabkan stress pada auditory. Terlebih jika diterapkan pada anak, yang dikhawatirkan  anak akan merasa bosan  atau trauma dengan belajar.

Dalam sejarah perkembangan pendidikan modern, sejarah mencatat bahwa pada abad 17 menghafal menjadi metode yang harus ada dalam pendidikan, bahkan eropa sekalipun. Salah satunya dapat dilihat dari sejarah Johan Hendrich Pestalozzi yang dikenal sebagai pendiri Sekolah Dasar Modern pertama kali. Dalam sejarahnya dia mengungkapkan ketidaksukaannya dalam menghafal walaupun saat itu orang yang tidak suka menghafal di anggap aneh. Dalam buku Sejarah perkembangan pikiran dan praktek pendidikan Agama Kristen (Terjemahan) karya Robert R. Bolkhe dijelaskan;
Pestalozzi tidak pernah tertarik pada tugas-tugas menghafal dan meniru disekolah, tetapi ia amat rajin dalam tugas-tugas yang memamfaatkan daya imajinasi. Karena kelainan sifatnya itu ia ditertawakan oleh rekan-rekannya disekolah dan diberi nama ejekan, “Hengki bodoh dari kota aneh”.

Apa ini juga yang membuat Sekolah-Sekolah Dasar modern tidak menseriuskan menghafal dalam kurikulum pendidikannya, lantaran pendirinya tidak mau menghafal (Trauma) ?

Karena itulah mereka menyatakan menghafal masuk dalam unsur pendidikan tradisional.

Bagaimana dengan islam ?

Menghafal dalam islam memiliki tingkat dan kedudukan yang sangat mulia. Menghafal merupakan karakteristik pendidikan islam, dalam islam semua ilmu dihafal. Ulama besar Ibnu Jauzy menulis satu kitab sendiri dengan judul Al hatsu ala hifdzhul ilmi (Anjuran untuk menghafal ilmu), seakan Ibnu Jauzy ingin mengatakan bahwa banyak keutamaan dari menghafal ilmu dan menjadi metode yang sangat efektif. Uniknya lagi, dimasa kejayaan islam  seringkali  dilakukan pengecekan apakah tulisan/kitab itu benar atau tidak dengan cara kitab-kitab itu di koreksi melalui hafalan seseorang, berbeda dengan sekarang hafalan seseorang yang dikoreksi oleh kitab.  Ampuni kami ya Rabb….

Hasyid Ibnu Ismail berkata, “Bukhari berbeda pendapat dengan kami dihadapan Syaikh-syaikh bashrah, ketika itu ia usianya masih anak-anak. Ia tidak menulis hingga beberapa hari. Setelah lewat enam belas hari, ia berkata “kalian telah banyak menulis hadits untukku, maka tunjukanlah apa yang kalian tulis ?” lalu kami bacakan untuknya lebih dari lima belas ribu hadits. Dan bukhari membacakannya serta menghafalnya hingga kami menitipkan tulisan kami dalam hafalannya.” Subhanallah Itulah kehebatan menghafal jika ada dalam metode pmbelajaran kita, lahirnya sekelas generasi-generasi gemilang.

Bagaimana dengan menghafal Al Qur’an ?

Jika menghafal ilmu adalah anjuran, maka menghafal Al Qur’an adalah sebuah keberkahan ilmu yang luar biasa. Inilah yang membuat barat iri pada Islam, karena mereka tidak dianjurkan untuk menghafal Al Kitab. Berbeda dengan islam yang menganjurkan Al Qur’an untuk di hafal. Ibnu Jauzy dalam kitabnya menganjurkan agar anak-anak pada usia 5 tahun untuk menghafal Al Qur’an, atau Ibnu Sina dalam bukunya As Siasah menuliskan;
ketika seorang anak siap untuk menerima ilmu, dan mampu mendengar dengan baik. Hendaklah dimulai dengan menghafalkan Al Qur’an dan mengajarkannya huruf-huruf hijaiyah serta pokok-pokok agama”.

Artinya memang Al Qur’an memiliki peran besar dalam kehidupan generasi islam. Itulah hikmahnya Al Qur’an menjadi pedoman kehidupan. Dan sejarah mencatat bahwa generasi-generasi terbaik Islam di dunia ini lahir dari para penghafal Al Qur’an.

Abu Ya’qub az-Zayyat bertanya kepada muridnya apakah dia hapal al-Qur’an. Sang murid menjawab tidak. Dan inilah kalimat Abu Ya’qub:
"Tolong ya Allah…seorang murid tidak hafal al-Qur’an! Seperti buah Utrujjah yang tidak ada aromanya."

Maka, dengan apa dia menikmati (hidupnya)?

Dengan apa dia bersenandung?

Dengan apa dengan munajat kepada Tuhannya?”
Wallahu'alam