YOOtheme
elvin sasmita
Obat Kebodohan itu Bertanya
Kamis, 31 Mei 2012 11:09
Ditulis oleh Elvin Sasmita

"Waktu kecil, aku begitu kagum melihat dinamo motor berputar setelah kedua bagian positif negatif powernya aku hubungkan ke bateray kecil. Lantas aku berpikir, bukankah stop kontak juga mengeluarkan listrik yang bisa memutar kipas angin itu memiliki kekuatan yang lebih besar ? Pasti kalau bagian positif negatif dinamo kecilku aku colokkan ke stop kontak itu dia akan bisa memutar dinamoku lebih cepat. Akhirnya aku bereksperimen dengan ide baruku itu. Kabel yang menghubungkan bagian positif dan negatif pada dinamo aku masukkan ke stop kontak yang ada, dan.......aku berteriak kaget beberapa saat dengan badan bergetar lalau terlepas dan terduduk. Lemas luar biasa", inilah pengalaman masa kecil seorang teman. Konyol dan hampir berakibat sangat fatal.

Begitulah ilmu, ia akan sangat mempengaruhi benar dan salahnya gerak seseorang. Terkadang dengan keterbatasan ilmu kita berusaha memutuskan dan melakukan sesuatu. Efeknya ? Bisa lucu atau bahkan fatal.

Ijtihad dengan Minimnya Ilmu

Coba kita lihat hadits berikut ini, gambaran orang yang berijtihad dengan keterbatasan ilmunya, hasilnya sungguh konyol dan membuat kita tersenyum saat membacanya. Dan bisa jadi kita pun akan melakukan hal tersebut apabila tidak memiliki ilmunya.

لِحَدِيْثِ عَمَّارِ قَالَ: اَجْنَبْتُ فَلَمْ اُصِبِ الْمَاءَ فَتَمَعَّكْتُ فِى الصَّعِيْدِ وَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ ذلِكَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا: وَضَرَبَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْرِ اْلاَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ {متفق عليه}

Menurut hadits ‘Ammar berkata: “Aku pernah berjanabat dan tidak mendapat air, lalu berguling-gulinglah aku dalam debu dan shalat. Maka aku sebutkan yang demikian itu kepada Nabi saw., maka beliau saw. Bersabda: Sesungguhnya mencukupi bagimu begini: lalu beliau meletakkan kedua tangannya di tanah dan meniupnya, kemudian mengusap mukanya dan telapak tangannya dengan kedua tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

'Ammar berpikir, kalau orang yang berhadats besar maka ia harus mandi. Dan ia tahu kalau orang berwudhu tidak mendapati air maka ia dapat bertayamum. Menggantikan air dengan tanah. Lantas ia berpikir, tentu akan sama halnya kalau seseorang itu dalam kondisi janabat dan ia harus mandi tapi tidak di temukan air, maka ia berkesimpulan berguling-guling di tanah sudah dapat mensucikan dirinya dari hadats besar. Ia masuk ke wilayah ijtihad dengan keterbatasan ilmunya. Hasilnya, kita yang membaca hadits ini tentu tersenyum karena kita sudah tahu ilmunya.

Minimnya Ilmu yang Berakibat pada Kematian

Ada juga sebuah ijtihad yang bersifat fatal untuk orang lain, lihatlah hadits yang di sampaikan oleh Jabir Radhiallahu'anhu.

عن جابر قال : " خرجنا في سفرفأصاب رجلا منا حجر ، فشجه في رأسه ، ثم احتلم ، فسأل أصحابه ، فقال : هل تجدون لي رخصة في التيمم ؟ فالوا : ما نجد لك رخمة وأنت تقدر على الماء ، فأغتسل ، فمات ، فلما قدمنا على الني ( صلى الله عليه وسلم ) أخبر بذلك ، فقال : قتلوه قاتلهم الله ، ألا سألوا إذ لم يعلموا ؟ ! فإنما شفاء العي السؤل ، إنما كان يكفيه . . . " الحديث . ومن هذا الوجه رواه . الدارقطني ( 69 ) والبيهقي ( 1 / 228

Dari Jabir Radiallahu Anhu, dia berkata : “Kami pernah keluar dalam suatu safar. Saat itu ada batu menimpa salah seorang di antara kami hingga melukai kepalanya. Orang ini kemudian bermimpi (bermimpi junub). Diapun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah kalian mengetahui ada Rukhsah yakni keringanan hukuman dengan bertayamum dalam masalah ini?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendapatkan Rukhsah untukmu dalam masalah ini.”
Akhirnya orang ini mandi junub, (dimana luka dikepalanya terkena air) lalu meninggal dunia
.

Ketika kami sampai di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ceritakan masalah itu. Beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) lalu berkata : “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membunuh mereka. Tidakkah mereka bertanya ketika tidak mengetahui? Sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya ! .....(Hadits Riwayat Ad Daruquthni (69), Baihaqi (1/228),Hadits ini dishohihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih al Jami’ ash Shagir No. 4362)

فاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

.....Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui (An Nahl 43)

Begitu kuatnya Allah dan Rasulullah memotivasi kita untuk senantiasa bertanya akan hal-hal yang tidak kita ketahui. Juga tidak sembarang bertanya, tapi bertanya kepada ahli ilmu.

Jabir pernah pergi ke Syam, yang memakan waktu sebulan untuk sampai di Syam hanya untuk menanyakan SATU HADIST saja yang belum pernah di dengarnya. Sahabat yang didatangi nya adalah Abdullah Ibn Unais Al-Anshary.

Begitu pula Abu Ayyub Al-Anshory yang pernah melawat ke Mesir untuk menemui Uqbah Ibn Amir hanya untuk bertanya SATU HADIST saja.

Dalam biografi Imam Malik bin Anas, dikisahkan suatu saat datang seorang dari Khurosan dengan 40 soal yang telah ia persiapkan dari negerinya yang jauh. Namun ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan kepada Imam Malik, beliau hanya manjawab 4 soal, terheranlah sang pemuda. Ia berkata: Saya datang dari jauh, dari negeri khurosan, hanya ini yang bisa didapatkan? Berkatalah Imam Malik, Wahai pemuda katakan kepada mereka seluruhnya bahwa Imam Malik tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Subhanallah, begitu kuatnya motivasi mereka untuk bertanya tentang ilmu karena mereka menyadari betul ilmulah yang akan mengantarkan di terima atau tidaknya amal seseorang.

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak. (H.R Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

Lantas mengapa hari ini dalam sebuah majelis ilmu kita sering sekali di hinggapi perasaan khawatir untuk bertanya ? Khawatir pertanyaannya berkesan biasa saja dan bodoh ? Khawatir akan di cemooh oleh orang karena pertanyaan kita dianggap dangkal ?