YOOtheme
Galat
  • JUser::_load: Unable to load user with id: 5145
Beribadah Saat Manusia Lalai
Kamis, 07 Juni 2012 11:48

Sobat Siroh, saat ini kita sudah melewati pertengahan salah satu bulan dari empat bulan yang diharamkan Allah. Bulan yang diharamkan itu telah Allah sampaikan dalam AlQur’an surat At –Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [٩:٣٦

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah : 36)

Maksud dari 4 bulan yang diharamkan itu diantaranya adalah 3 bulan yang berturut-turut dan 1 bulan yang terpisah, sebagaimana sabda nabi yang menguatkan ayat di atas yakni :
Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Artinya, kita sudah melewati pertengahan bulan yang diharamkan Allah Subhanahuwata’ala. Yakni Bulan Rajab.

Di dalam bulan Rajab, rasul tidak menyampaikan apapun tentang keistimewaan-keistimewaan bulan ini, sebagaimana yang dikatakan oleh :
Imam asy-Syaukani menukil perkataan 'Ali bin Ibra-him al-'Aththaar, ia berkata dalam risalahnya: "Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan puasa Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam)." [Lihat al-Fawaa-idul Majmu'ah fil Ahaaditsil Maudhu'ah (hal. 381)]

Namun ayat di atas merupakan isyarat bagi sobat siroh yang beriman untuk memahami nilai yang terkandung pada bulan Rajab. Nilai yang terkandung menurut sebagian ulama adalah dilarang berbuat dosa. Dilarang berbuat dosa di bulan yang diharamkan Allah Subhanahuwata’ala menjadi sebuah penekanan, bahwa bulan ini menjadi bulan istimewa dalam melatih diri untuk menjauh dari perbuatan dosa.

Bulan Rajab sebentar lagi pun kita akan meninggalkannya, dapat dihitung dengan jari karena kita sudah melewati dari pertengahan bulan ini…

ITU ARTINYA…

Kita sebentar lagi akan memasuki bulan yang kata nabi adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan namun kebanyakan manusia lalai di bulan ini. Hal ini jelas disampaikan oleh nabi kita dalam haditsnya.

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sobat siroh, beribadah saat kebanyakan orang lalai adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi kita. Karena Rasulullah telah banyak menyampaikan keistimewaan-keistimewaan beribadah saat kebanyakan manusia lalai.

Salah satu contoh, tatkala pada suatu malam yang larut Rasul keluar menuju masjid untuk menemui para Sahabat yang sudah menanti beliau sejak lama demi menunaikan shalat ‘Isya berjamaah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,
Tak ada satu pun orang, saat ini dari penduduk bumi yang menunggu shalat ‘Isya ini kecuali kalian.” [Shahih Bukhari, no. 569, 570]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah memberikan komentar terhadap hadits di atas :
Di sini terdapat isyarat tentang keutamaan menyendiri dalam berzikir pada Allah, di saat tidak ada orang yang berzikir pada-Nya.” [Lathaa-iful Ma’aarif, hal. 251-252]

Maka dari itu sobat siroh, di dalam kitab Lathaa-iful Ma’aarif menyampaikan sekiranya ada tiga hal kemanfaatan yang sangat luar biasa tatkala kelalaian itu melanda pada diri kebanyakan manusia, antara lain :

Pertama:
Ibadah yang dilakukan sudah pasti tersembunyi, dan amalan yang punya sifat demikian, sangat-sangat dicintai Allah. Kalaupun tampak di mata orang lain, sungguh hal tersebut terkesan asing alias tidak lazim di tengah mayoritas manusia yang hanyut dalam kelupaan akan statusnya sebagai hamba Allah. Nah, di sinilah nilai lebihnya, menunjukkan betapa kuatnya kadar cinta dan keikhlasan seorang hamba kepada pencipta-Nya.

Kedua:
Ganjaran kebaikan yang akan diraih dari ibadah di saat kebanyakan manusia lalai, lebih besar. Karena para ulama menjelaskan bahwa ganjaran suatu amal akan bertambah besar seiring bertambah besarnya pengorbanan, kesabaran jiwa, dan kepayahan yang dirasakan demi menunaikan amal tersebut, tentunya selama hal tersebut merupakan konsekuensi lazim suatu amalan, bukan pengorbanan dan kepayahan yang sengaja dicari-cari [lihat Al-Majmuu’ al-Fataawa: 10/620-622, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah].

Ketiga:
Menyendiri dalam ibadah di kala kebanyakan manusia tenggelam dalam dosa dan kelalaian, bisa menjadi tameng dari azab Allah yang bersifat menyeluruh atas segenap manusia

Nah, Sobat siroh kita belum terlambat. Insya Allah kita akan memasuki bulan yang kebanyakan orang lalai. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang lalai. Sehingga kita akan benar-benar bersiaga dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Wallahu’alam

Referensi utama:
Lathaa-iful Ma’aarif, Ibnu Rajab al-Hambali, Cet.-5, Daar Ibn Katsir, 1420
Al-Majmuu’ al-Fataawaa, Ibnu Taimiyyah, Majma’ al-Malik Fahd, 1416
Shahih al-Bukhaari & Shahih Muslim, li asy-Syaikhain