![]() |
|
Seperti halnya seorang anak yang tidak mengikuti nasihat dari orangtua, kita yakini bahwa Ridho Allah adalah ridho orangtua. Seringkali yang terjadi adalah kita merasakan kegagalan dalam suatu pekerjaan karena tidak mempertimbangkan dan menjalankan nasihat orang tua.
Begitulah kurang lebih gambaran dari KUALAT. Sekeras apapun usaha kita, kalau yang kita lakukan tidak sesuai dengan pedoman atau nasihat yang diajarkan, maka akibatnya seringkali kita mendapatkan kegagalan, kecemasan, ketakutan, dsb. Namun apa yang terjadi jika kualat itu masuk di dalam dunia pendidikan ?
Mari kita mulai dari sebuah keluhan nabi Muhammad SAW yang diabadikan dalam Al Qur’an surat Al Furqan :30
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً-٣٠-
Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini diabaikan.”
Setelah itu Nabi dihibur oleh Allah dengan ayat selanjutnya;
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً -٣١-
Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami Adakan musuh dari orang-orang yang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.
Subhanallah, begitu sedihnya Nabi jika ada suatu kaum atau golongan yang mengabaikan Al Qur’an. Inilah pesan Nabi kepada kita yang harus kita pegang kuat dalam kehidupan, khususnya dalam konsep pendidikan. Doa penuh harap Nabi kepada ummatnya untuk tidak mengabaikan Al Qur’an. Menariknya adalah di ayat 31 Allah menegaskan “….Tetapi cukuplah Tuhan-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.”
Petunjuk itu adalah Al Qur’an, semoga kita bukan termasuk orang yang mengabaikan Al Qur’an.
Tapi bagaimana dengan kondisi pendidikan saat ini ?
Survey yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) bekerjasama dengan Gothe Institute pada tahun 2010 terhadap daya minat muslim Indonesia diwilayah perkotaan dalam membaca Al Qur’an. dari 1496 responden ditemukan hasil sebagai berikut :
| Mengakui bahwa mereka selalu membaca Al Qur’an | : 8,6% |
| Sering membaca Al Qur’an | : 25,4% |
| Kadang-kadang membaca Al Qur’an | : 64,9% |
| Tidak pernah Membaca Al Qur’an | : 0,7% |
| Tidak tahu | : 0,3% |
Lihatlah kondisi kita, dari hasil survey diatas dapat kita renungi dan evaluasi, seberapa besar tanggung jawab pendidikan untuk menstimulasi anak didiknya dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. tidak sampai disitu, jika ini adalah hasil minat membaca Al Qur’an, maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa banyak yang menghafal Al Qur’an ? kami sementara belum mendapatkan data tentang hal itu, tapi jika boleh berasumsi, melihat hasil dari yang mengaku selalu membaca Al Qur’an 8,6% maka diperkirakan yang menghafal tidak lebih dari 8% bahkan berkurang dari itu. Setidaknya survey tersebut menunjukan kondisi pendidikan yang telah kualat, karena semakin lama semakin jauh dengan Al Qur’an. Astagfirullah.
Belum lagi diperburuk dengan penelitian dan perspektif para ilmuan barat terhadap konsep pendidikan yang seringkali kurang mendukung untuk aktivitas pendidikan dalam islam. Misalkan, pandangan barat terhadap gaya belajar menghafal bagi anak, duduk rapih dalam keheningan (lain kali kita bahas), dsb. itu yang membuat pelaku pendidikan islam saat ini menjadi bingung untuk menentukan sikap. Alhasil sering kita jumpai beberapa sekolah yang awalnya mentargetkan hafalan anak-anaknya lulus sekolah dasar misalkan 7 juz malah mengurangi menjadi 3 sampai 1 juz. Atau lembaga pendidikan anak yang tidak berani untuk membebankan menghafal Al Qur’an kepada anak didiknya karena sebuah penelitian, bahwa hal tersebut dapat mengganggu perkembangan kogntif si anak, atau juga ada yang terbebani dengan targetan kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Akhirnya Al Qur’an di nomor 2,3, atau 10-kan dalam prioritas pembelajaran. Kasihan
Apa yang terjadi jika Al Qur’an sudah di nomor duakan bahkan ditiadakan ?
Negara yang disanjung-sanjung sebagai salah satu kiblat pendidikan pun mengalami kegagalan dalam konsep pendidikanya. inilah salah satu gambaran yang kualat dalam pendidikan. Dalam buku Life Span Development yang ditulis oleh John W Santrock mengungkapkan kalimat yang disampaikan oleh Howard Gardner tahun 1993;
Pada dasawarsa yang lalu, pendidikan amerika mendapat kritikan (Holtzmann). Suatu komisi nasional yang ditunjuk oleh Departemen Pendidikan menyimpulkan bahwa anak-anak tidak dipersiapkan dengan baik menghadapi masa depan yang semakin kompleks dalam masyarakat kita. Masalahnya banyak sekali ; keterampilan orang-orang yang memasuki profesi pengajaran menurun; para remaja tamat dari sekolah menengah atas dengan keterampilan membaca dan matematika tingkat sekolah dasar; kekurangan guru matamatika dan sains yang memenuhi persyaratan; murid-murid meluangkan sedikit waktu dalam tugas kelas akademik; kurikulum sekolah tidak menantang dan tidak menuntut banyak berfikir; dan terdapat angka putus sekolah yang tinggi pada jenjang sekolah menengah atas. ….. (gardner 1993)
Dapat dilihat, pada tahun 1980an kondisi pendidikan Amerika mengalami masalah besar. Karena itulah, saat ini begitu banyak konsep-konsep pendidikan yang digagas dan ditawarkan oleh para ahli untuk menjadi solusi atas ketidakberhasilan konsep sebelumnya, yang terkadang membuat para pelaku pendidikan bingung. Dan dapat dipastikan hasilnya akan sama, jika konsep pendidikan itu tidak kita gali dari sumber yang jernih yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Kita akan menunggu hasil selanjutnya dari konsep pendidikan barat yang menggunakan penelitian, logika baru kitab suci. dan kita (muslim) berlomba mencari mutira-mutiara ilmu dari kedalaman sumbernya; Al Qur’an dan As Sunnah agar tidak masuk kedalam lubang yang sama, sehingga terhindar dari kualat pendidikan. Karena kita yakin, Al Qur’an menjadikan pendidikan ini berkah, maka jangan coba untuk menomor duakannya !
من أراد العلم فليثور القرآن فإن فيه علم الأولين والآخرين
“Siapa yang menginginkan ilmu maka pelajarilah Al Quran, karena di dalamnya ada ilmu orang-orang awal dan orang-orang akhir.” (Abdullah bin Mas’ud Al Mu’jam Al Kabir, Ath Thabrani)
Wallahualam


