![]() |
|
Tewasnya Para Pembesar Kekafiran
Kemenangan muslimin di Ramadhan 2 H pada perang Badar, benar-benar lengkap. Berbagai macam pertolongan Allah turun memihak muslimin. Pertolongan yang tak hanya bernilai kemenangan tetapi juga kemuliaan. Selain itu, kemenangan muslimin pada perang yang tidak terduga itu, tewasnya para pembesar Quraisy yang sombong dan dzalim.
Di antara mereka adalah Abu Jahal. Pemimpin tertinggi Quraisy itu mati sangat cepat. Tak hanya itu, kematiannya pun begitu hina. Bukan di tangan panglima muslimin yang hebat. Tetapi di tangan dua anak kecil yang tak pernah dikenal. Dua anak kecil itupun berasal dari Madinah.Padahal orang-orang Quraisy tidak mau berhadapan duel dengan orang dewasa yang berasal dari Madinah. Mereka merasa jatuh harga dirinya. Tapi Abu Jahal sekarat di tangan 2 anak kecil dari Madinah. Benar-benar mati dengan cara hina.



Bulan Sya’ban 2 H, Al Baqarah : 183 turun. Perintah untuk shiyam Ramadhan. Sudah 15 tahun terhitung dari hari pertama Rasulullah mendapatkan wahyu. Atau 2 tahun sejak keberadaan muslimin di Madinah.
Nabi dan Muhajirin baru 7 bulan menginjakkan kaki di Madinah. Tugas semakin berat. Muslimin berdiam diri sekalipun, musuh Islam tidak akan pernah berdiam diri. Quraisy terus mengawasi pergerakan muslimin dan pertumbuhan mereka. Cepat atau lambat bentrok dua kekuatan itu akan terjadi. Seperti yang telah diduga oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Para ulama Siroh Nabawiyah menyebut tahun 10 Kenabian dengan sebutan ‘Amul Huzni’ (tahun kesedihan). Mengapa disebut seperti itu? Kesedihan apa saja yang membuat tahun itu dijuluki seperti itu?
Bumi diselimuti kejahiliyahan. Di seluruh pelosok bumi. Dalam kawalan peradaban Persia dan Romawi. Arab yang tidak tersentuh keduanya pun sama. Mereka hidup dalam carut marut jahiliyyah. Jahiliyyah pada agama mereka. Jahiliyyah pada keyakinan mereka. Jahiliyyah pada akhlak mereka. Jahiliyyah pada ekonomi mereka. Jahiliyyah pada politik mereka. Jahiliyyah pada seluruh kehidupan mereka.