|
“Aku mencintainya sebelum mantraku terputus
Seperti onta yang perawakannya sangat bagus
Cahaya bulan purnama seakan pancaran wajahnya
Berpendar di Bani Hasyim dan membumbung ke sana “
(Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin)
Bait-bait syair di atas meluncur dari mulut seorang wanita hamba sahaya yang begitu terpesona kepada Muhammad bin Al Qasim bin Ja’far bin Abu Thalib.
Dunia ini memang penuh dengan pesona yang menghadirkan cinta. Tak jarang ia menggelincirkan orang-orang yang sedang mendaki puncak ketakwaan. Atau melalaikan dirinya dari Sang Kekasih sejati. Membuat ia gagal melihat pesona Rabbnya dalam setiap gerak nafas kehidupan.


Allah Subhanawata'ala berfirman:
Baru saja Shalat Shubuh usai. Mathof/Shohn (pelataran tempat Thawaf) dipadati oleh muslimin. Ada yang menyelesaikan thawaf yang belum selesai, terjeda oleh Shalat Shubuh. Ada yang memulai thawaf sunnah. Ada yang tetap di tempat duduknya sambil memanjatkan dzikir pagi dan doa. Dan ada yang menikmati ayat-ayat Al Quran.
g akan kita rasakan ketika kita kehilangan orang yang paling kita cintai ? Orang yang selama ini men-support perjuangan kita secara moril dan materil, mendengarkan keluh kesah kita di kala gundah dan lara, memberikan buah hati yang kita cintai, membenarkan kita di saat semua orang mencemooh dan mendustakan. Terhempas ! Diri kita akan terasa terhempas dalam sebuah jurang yang dalam. Kesedihan yang sangat manusiawi.
“Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah nikmat-ku kepadamu.” (QS. Ibrahim : 7 )