Cermin
14 August 2010
Belajar dari Burung
Seekor burung. Tak punya akal layaknya manusia. Hidup di alam bebas. Tinggal di dalam sangkar buatannya yang mungil. Setiap pagi ia terbang dari sarangnya dalam keadaan perutnya yang masih kosong. Hinggap dari satu dahan ke dahan yang lain. Terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Mencari sesuap rizki Tuhan untuk dirinya dan untuk anak-anaknya yang ia tinggal di sangkar. Dengan telaten ia memintal daun demi daun. Barangkali Allah meletakkan rizkinya hari itu disana. Di tengah-tengah kesibukannya itu, ia masih sempat melantunkan kicauan tasbih yang menambah harmonika alam. Sangat syahdu.


Beberapa orang dari keluarga Bani Marwan berkumpul di istana Umar bin Abdul Aziz. Sang khalifah sengaja menahan mereka untuk duduk di sana agak lama. Segala sesuatupun direncanakan.
Kebesaran dimulai dari hal kecil. Kemajuan dirintis dari langkah sederhana. Kesempurnaan digapai dengan melakukan hal kecil, bahkan sepele. Kehormatan diukir dengan belajar menghormati diri sendiri. Adanya tulisan berbuku-buku adalah dimulai dari titik. Kita tak bisa mengatakan bahwa yang di depan itu pasti yang paling banyak jasanya. Bisa jadi yang di tengah atau di belakanglah yang justru punya peran penuh arti.
Kebaikan itu seperti tanaman yang tak pernah layu dan kering. Sekalipun di tanam di tanah yang tandus dan gersang, ia akan tetap tumbuh dan mengeluarkan buahnya. Dan buah ini tak akan jatuh kepada siapapun, kecuali kepada orang yang menanamnya.
Di sebuah kamar, berkumpullah empat orang remaja. Mereka adalah Mush'ab bin Zubair, 'Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Umar. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Berkhayallah!"